Sunday, June 10, 2018

Mobile Legends Tidak Masuk Asian Games? Ternyata Ini Alasannya

Alasan Mobile Legends Tidak Masuk Asian Games
Pemerintah Indonesia telah resmi mengumumkan game MOBA yang akan di pertandingkan di ajang Asian Games 2018. Dari 3 kandidat yakni Mobile Legends, Arena of Valors dan Vainglory, game moba yang akan masuk ke ajang Asian Games 2018 adalah Arena of Valors. Hal ini mendapat pro kontra dari para gamer, khususnya gamer MOBA di tanah air. Lantas kenapa Mobile Lagends yang sangat populer di Indonesia dan sudah banyak yang mendownloadnya tetapi gagal menjadi game E-Sport terbaik di dunia (ESL) dan sekarang gagal untuk masuk ke Asuan Games 2018? Nah berikut alasannya sob.

1. Hanya Ramai di Indonesia

Memang terbukti jika Mobile Legends merupakan game MOBA paling populer di Indonesia. Namun bagaimana perkembangan game ini di luar Indonesia? Di negara Asia lainnya, pemain ML ternyata tidak sebanyak dan seantusias gamer Arena of Valor (AoV). Selain itu, AoV juga sudah mengadakan kompetisi di 85 negara secara rutin, dan ini merupakan salah satu nilai plus dari AoV. Emang bener sich sob, kalau di bandingkan dengan event yang di adakan di Taman Anggrek, jumlah penonton Mobile Legends jauh lebih banyak di banding acara AoV. Namun, dalam tahun ini saja, AoV sudah melaksanakan 2 kali turnamen.

2. Tournament Mobile Legends yang Hit & Run



Ajang turnamen yang di adakan oleh Mobile Legends hanya bersifat sementara, mencari pemenang regional dan setelah itu tidak ada kelanjutannya. Berbeda dengan AoV, pemenang turnamen akan diikutsertakan untuk mewakili Indonesia bersaing di turnamen international AoV di Los Angeles, USA.

3. Ekosistem E-Sport Mobile Legends Tidak Terbentuk dengan Baik



Ekosistem gamer ML tidak sebaik dari AoV. Pasalnya, AoV mempu mendukung setiap kegiatan regional maupun turnamen kecil yang di adakan oleh komunitas gamer AoV. Ia memberikan dukung berupa hadiah untuk setiap turnamen yang diadakan.

4. Gameplay yang Tidak Balance


Hal ini mungkin sudah di alami oleh banyak pemain Mobile Legends. ML memang terbilang rajin merilis hero baru, namun hero yang baru keluar gak lama kemudian di nerf. Ini merupakan salah satu bukti jika Developer terlalu terburu-buru dalam mengeluarkan hero baru tanpa di uji terlebih dahulu.

5. Plagiat Merupakan Masalah Utama bagi Mobile Legends



Entah apa yang dipikirkan oleh developer, terispirasi atau plagiat? Mungkin para gamer sudah tau lah apa jawabannya. Nah hal ini berdampak terhadap kemajuan dari ML. Pasalnya, banyak brand kecil maupun besar yang mempertimbangkan untuk menggandeng ML sebagai patner dalam menggelar sebuah turnamen. Tau sendiri kan sob, masalah pengambilan intelektual property merupakan masalah serius bagi sebuah brand.

Jadi, seramai apapun Mobile Legends tanpa adanya sponsor maka akan kesulitan dalam mengadakan turnamen besar. Dan karena masalah plagiat yang sedang bergulir ini di pengadilan California, Amerika Serikat membuat mereka urung membawa ML masuk ke rancah e-sports, bahkan Mobile Legends sendiri tidak bisa diakui di ESL, yang merupakan platform e-sports dunia.

Lantas bagaimana sob menurut kalian, apakah keputusan pemerintah dalam memilih AoV sebagai game MOBA untuk dipertandingkan di ajang Asian Games sudah tepat? Apakah keputusan ini bisa dirubah atau menambah ML masuk ke Asian Games ? kalau soal ini saya gak bisa jawab sob, mungkin lainnya bisa menjawabnya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu semuanya ya sobat yang terus bertanya-tanya kenapa Mobile Legends tidak masuk Asian Games.